"" THE ROAD NOT TAKEN: BY THE RIVER PIEDRA I SAT DOWN AND WEPT ...

Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Saturday, 11 December 2010

BY THE RIVER PIEDRA I SAT DOWN AND WEPT ...

All alone in my bed, hope this novel will wipe away the tears in my heart!


“By the River Piedra I sat down and wept. There is a legend that everything falls into the waters of this river – leaves, insects, the feathers of bird – is transformed into the rocks that make the riverbed. If only I could tear out my heart and hurl it into the current, then my pain and longing would be over, and I could finally forget.”



"... I am going to sit here with you by the river. If you go home to sleep, I will sleep in front of your house. And if you go away, I will follow you – until you tell me to go away. Then I’ll leave. But I have to love you for the rest of my life ..."

My Malay version of the story;

 Di Tepi Sungai Piedra, aku duduk dan menangis. Ada legenda bahawa segala sesuatu yang jatuh ke sungai ini, dedaunan, serangga, bulu burung akan berubah menjadi batu yang membentuk dasar sungai. Kalau saja aku dapat mengeluarkan hatiku dan melemparkannya ke arus, maka kepedihan dan rinduku akan berakhir, dan akhirnya aku pun melupakan semuanya.

Di tepi sungai Piedra aku duduk dan menangis. Udara musim dingin membuat air mata yang mengalir di pipiku terasa dingin, dan air mataku menitis ke air sungai dingin yang menggelegak melewatiku. Disuatu tempat entah di mana sungai ini akan bertemu sungai lain, dan yang lain lagi, hingga jauh dari hati dan pandanganku semuanya menyatu dengan lautan.

Semoga air mataku mengalir sejauh-jauhnya, agar kekasihku tak pernah tahu bahwa suatu hari aku pernah menangis untuknya. Semoga air mataku mengalir sejauh-jauhnya, agar aku dapat melupakan Sungai Piedra, biara, gereja di pergunungan Pyrenees, kabut dan jalan-jalan yang kami lalui bersama.



Aku akan melupakan jalan-jalan, pergunungan dan padang-padang mimpiku - mimpi-mimpi yang tak akan pernah menjadi kenyataan.

Aku ingat “saat magis” ku – saat ketika sebuah “ya” atau “tidak” dapat mengubah hidup seseorang untuk selamanya. Rasanya sudah lama sekali. Sulit dipercayai baru minggu lalu aku menemukan cintaku lagi, dan kemudian kehilangan dirinya.

Aku menulis kisah ini di tepi Sungai Piedra. Tanganku terasa beku, kakiku mati rasa dan setiap minit aku ingin berhenti.

”Hiduplah” mengenang hanya untuk orang-orang tua.  Ia berkata.

Mungkin cinta membuat kita menua sebelum waktunya – atau menjadi muda jika masa muda telah lewat. Namun mana mungkin aku tidak mengenang masa itu? Itulah sebabnya aku menulis. Mengubah getir menjadi rindu, sepi menjadi kenangan. Sehingga ketika aku selesai menceritakan kisah ini pada diriku sendiri, aku bisa melemparkannya ke Piedra. Ketika itulah seperti kata salah satu orang kudus – air sungai akan memadamkan apa yang telah ditulis oleh lidah api.

Semua cinta tiada berbeda.

No comments: